
Ketua Program Studi Kesmas, FKM UMI, Makassar
"Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan gangguan metabolisme hormonal dan terkait erat dengan risiko terkena kanker."
Perhelatan piala dunia sepakbola selalu mengundang perhatian masyarakat dunia. Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan pada 11 Juni hingga 11 Juli 2010 tak lepas dari perhatian.
Dari 32 tim sepakbola yang mengikuti kontestan, beberapa pertandingan digelar pada waktu larut malam waktu Indonesia. Tentunya, para pencinta sepakbola di tanah air harus begadang untuk menyaksikan sepakbola secara langsung melalui televisi.
Sedikitnya terdapat 29 pertandingan yang digelar pada waktu pukul 01.30 wita dari total 62 pertandingan. Selebihnya digelar pada pukul 21.00 wita. Beberapa partai yang tergolong big match digelar pada waktu larut malam. Bahkan partai-partai penentuan semifinal dan partai final digelar pada diri hari waktu Indonesia bagian tengah.
Penyakit Kurang Tidur
Banyak penyakit bisa muncul akibat kurang tidur, terutama oleh kegiatan nonton sepakbola pada larut malam. Menurut penelitian, orang dewasa membutuhkan tidur selama delapan jam dalam satu hari. Jumlah ini akan bervariasi dari satu orang ke orang lain tergantung jumlah kegiatan yang dilakukan. Sementara bila sebagian waktu tidur digunakan untuk menonton sepakbola, maka bisa jadi lama tidur orang dewasa kurang dari delapan jam.
Sebuah penelitian dari Universitas Pennsylvannia menemukan bahwa orang yang tidur hanya empat sampai enam jam per malam bereaksi lebih lambat dibanding mereka yang tidur selama delapan jam.
Kondisi ini juga sama pada mereka yang tidak tidur selama dua malam walaupun mereka mengatakan tidak merasa lelah padahal ini adalah awal dari sebuah masalah.
Memang ada perbedaan antara kurang tidur dengan tidak tidur namun keduanya menyimpang dari pola hidup sehat. Penelitian ini dilakukan pada 48 orang dewasa sehat yang berumur 21 sampai 38 tahun. Tingkat usia responden dipilih berkaitan dengan kekurangan tidur akibat tuntutan pekerjaan.
Sebuah penelitian di Health Economics Research di Perancis membuktikan bahwa para pekerja yang kesulitan untuk mendapatkan waktu tidur cukup kehilangan rata-rata 5,8 hari kerja setiap tahun, dibanding dengan mereka yang tidur secara reguler (rata-rata kehilangan hari kerja hanya 2,4 hari).
Tim peneliti ini menelusuri riwayat-riwayat kerja 369 karyawan yang mengalami insomnia dan 369 karyawan yang memiliki waktu tidur cukup.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa 50 persen dari kelompok insomnia memiliki waktu alpa kerja sekurang-kurangnya dua tahun, dibanding hanya 34 persen pada kelompok yang lain.
Akibat kurang tidur mendorong peningkatan penyakit stress dan cepat sedih. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Chicago juga menemukan tidur kurang dari delapan jam bisa meningkatkan produksi kortisol atau hormon stres. Sering merasa sedih karena otak lebih banyak menyimpan memori negatif ketimbang ingatan yang membahagiakan.
Bahkan pada sore dan malam hari dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan glukosa darah sehingga bisa memicu terjadinya hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes tipe2.
Di antara penyakit yang rentan akan menyerang para pecandu piala dunia sepakbola adalah diabetes. Dalam sebuah penelitian di Universitas Chicago, Amerika Serikat (AS) terhadap beberapa orang dalam enam hari menjelaskan bahwa mereka yang kurang tidur dari delapan jam per malam, terjadi proses metabolisme gula yang tidak wajar dan mengakibatkan timbulnya diabetes.
Alasannya, gula adalah bahan bakar setiap sel dalam tubuh manusia. Jika proses pengolahannya terganggu bisa menyebabkan efek buruk berupa resistensi terhadap insulin, yakni hormon yang membantu mengangkut glukosa dari aliran darah ke dalam sel.
Penelitian lain di Boston University, AS diterbitkan dalam Archives of Internal Medicine menemukan bahwa orang lanjut usia yang tidur kurang dari lima jam memiliki risiko yang 2,5 kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit kencing manis dibanding yang tidur enam jam, yang peluang risikonya 1,7 kali lebih rendah. Orang yang berumur antara 53 sampai 93 tahun, ada risiko untuk mengalami diabetes bila kualitas tidurnya buruk.
Kanker adalah resiko berikutnya bagi mereka yang kurang tidur (termasuk akibat begadang menonton sepakbola larut malam). Sebuah studi pernah dilakukan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health terhadap 6.000 wanita selama sekitar satu dekade dan menemukan bahwa penggemar olahraga yang tidur tujuh jam atau lebih sedikit per malam memiliki kesempatan lebih besar 50 persen mengidap kanker daripada mereka yang rutin melakukan senam dan memiliki kualitas tidur yang baik.
Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan gangguan metabolisme hormonal dan terkait erat dengan risiko terkena kanker.
Orang yang tidur kurang dari 7,5 jam per hari juga memiliki risiko penyakit jantung di masa depan lebih tinggi. Temuan tersebut didapatkan oleh peneliti dari Jichi Medical University Jepang, Kazuo Eguchi, MD, Ph.D bahwa terjadi peningkatan risiko serangan jantung di antara orang-orang yang kurang tidur malam hari dikombinasikan dengan tekanan darah tinggi.
Eguchi dan kolega mempelajari perilaku dari 1.255 individu dengan hipertensi selama 50 bulan. Sampel dilakukan pada orang dengan rata-rata berumur 70,4 tahun.
Tim peneliti mengumpulkan rincian pada setiap pasien seperti durasi tidur, tekanan darah siang hari dan malam hari, dan kejadian yang menunjukkan penyakit kardiovaskuler seperti stroke, serangan jantung, kematian jantung mendadak.
Dalam total sampel, terdapat 99 kejadian penyakit kardiovaskuler selama tindakan lanjut. Orang-orang yang tidur kurang dari 7,5 jam yang tampaknya lebih banyak mengalami kejadian penyakit kardiovaskuler.
Orang-orang dengan kualitas tidur yang buruk lebih rentan terkena infeksi penyakit dibandingkan orang-orang yang memiliki waktu istirahat yang cukup memiliki sistem imun yang lebih kuat.
Dalam sebuah studi dari John Hopkins Behavioral Sleep Medicine Program, direktur Michael Smith, PhD, membangunkan orang dewasa muda yang sehat selama 20 menit setiap jam selama delapan jam selama tiga hari berturut-turut. Hasilnya, mereka memiliki toleransi sakit yang lebih rendah, dan mudah mengalami nyeri. Aktivitas tidur yang buruk dapat menyebabkan sakit kronis seperti masalah punggung atau arthritis.
Resiko Kurang Tidur
Selain beresiko tinggi terkena penyakit, kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan antibody menjadi lemah. Sebuah penelitian menemukan bahwa pria yang kurang tidur akan mengalami kegagalan untuk menjaga respon imun atau kekebalan tubuh secara normal setelah menerima suntikan flu.
Mereka yang kurang tidur, antibody yang bekerja setelah dilakukan vaksinasi hanya bisa bertahan paling lama 10 hari. Kurangnya antibody maka akan rentan mengalami rasa dingin serta sistem kekebalam tubuh terganggu.
Resiko lainnya adalah berat badan menjadi bertambah akibat selalu merasa lapar dan hasrat ngemil makanan berlemak meningkat.
Dalam penelitian yang dilakukan pada orang kembar identik oleh University of Washington menemukan, mereka tidur 7-9 jam setiap malam, rata-rata indeks massa tubuh 24,8, hampir dua poin lebih rendah daripada rata-rata Body Mass Index (BMI) mereka yang kurang tidur.
Ada keinginan kuat untuk selalu menyantap makanan berlemak dan tinggi karbohidrat. Kondisi ini terjadi karena merangsang hormon ghrelin penambah nafsu makan, dan mengurangi hormon leptin sebagai penekan nafsu makan.
Mereka yang memiliki kualitas tidur yang buruk karena kurang tidur akan selalu merasa gelisah selain reaksi tubuh menurun. Perasaan bahagia akan jauh dari mereka yang mengalami kekurangan tidur karena suasana hati dan tidur diatur oleh zat kimia otak yang sama.
Lebih tragis lagi, peningkatan kadar kortisol dapat memperlambat produksi kolagen yang memicu terjadinya keriput lebih cepat, kulit yang pucat dan wajah tampak lelah.
Nah, bagi Anda penggemar sepakbola, selepas Piala Dunia siap-siap mengecek kesehatannya. Apakah Anda merasakan berat badan bertambah, atau muka bertambah tua atau sering merasakan kegelisahan.***
Lebih Interaktif, Lebih Akrab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar